Amal Madani Indonesia

Expresi Cinta Anak Negeri Tebar berjuta Amal Penuh Manfaat untuk anak negeri

Latest Post

Tiga Cara Masuk Jannah

Written By Amal Madani Indonesia on Saturday, July 7, 2012 | 9:16 AM


Tiga Cara Masuk Jannah

Setiap orang di dunia tidak akan memiliki frekuensi iman yang sama. Sejuta orang beriman sejuta pula tingkat keimanannya. Namun demikian, hanya dengan tiga cara mereka dapat  masuk jannah. Ketiga cara itu adalah : masuk jannah tanpa hisab, masuk jannah dengan hisab yang ringan dan masuk jannah dengan hisab yang berat.

Masing-masing orang beriman dipersilahkan memilih salah satunya. Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka untuk memilihnya. Tidak juga Alloh I karena Dia telah berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan: 3)
Tentang ayat ini Imam syafi’i berkata, ”Alloh menciptakan kita serta perbuatanya dan kita dipersilahkan memilih mana yang baik dan yang buruk. Semua jalan dimudahkan oleh Alloh.”
Dalam firman-Nya yang lain:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ .
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)
Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang masuk jannah tanpa hisab disebut sabiq bil khairat, yang masuk jannah dengan hisab yang ringan disebut muqtasid, dan yang masuk jannah dengan hisab yang berat disebut dzalim linafsih. Adapun yang masuk jannah tanpa hisab jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang masuk jannah dengan hisab, baik yang ringan ataupun yang berat. Demikian Ibnu Katsir menyitir pendapat para ulama dalam tafsir beliau.
Masuk Jannah Tanpa Hisab
Sabiq bil khairat, yang akan masuk surga tanpa hisab, secara bahasa berarti orang yang bersegera menuju kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang beraqidah hanif (lurus) tiada tercampuri dalam dirinya ke-syirikan. Mengenai karakter orang yang ma-suk jannah tanpa hisab Rosulullah r ber-sabda dalam haditsnya Ibnu Abbas t, ”Di-perlihatkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersama beberapa orang. Aku juga melihat seorang nabi dengan satu atau dua orang pengikut. serta seorang nabi yang tidak memilki pengikut. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sejumlah orang yang banyak, akau pun mengira bahwa mereka itu adalah ummatku, akan tetapi dikatakan ke-padaku, ”Ini adalah Musa u bersama kaum-nya.” Kemudian aku melihat lagi sejumlah besar manusia, lalu dikatakan, ”Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab.”
Kemudian beliau masuk rumah sementa-ra para Shahabat y memperbincangkan sia-pakah geragan orang-orang yang beruntung tersebut. Ketika beliau keluar beliau bersab-da, ”Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak mengobati dengan memanaskan besi, tidak melakukan tathoy-yur, dan mereka bertawakal hanya kepada Rabbnya saja.” Lalu berdirilah Ukasyah bin Mihsan t dan berkata, ”Mohonkanlah ke-pada Alloh agar aku termasuk golongan me-reka.” Beliau menjawab, ”Kamu termasuk g-olongan mereka.” Kemudian berdirilah seo-rang yang lain dan berkata, ”Mohonkanlah kepada Alloh supaya   aku    termasuk    golo-ngan  mereka.” Beliau  menjawab, ”Ukasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari)
Ibnu Taimiyah dalam fatawa vol. VII menjelaskan bahwa mereka juga orang-orang yang melaksanakan semua kewajiban yang Alloh I bebankan dan menjauhi semua laramgan-Nya. Selain itu, sisa waktu yang mereka miliki diisi dengan amalan sunnah. Untuk yang makruh?? Jangankan yang makruh, yang mubah pun mereka pilih-pilih demi menjaga diri agar tidak terjerumus dalam keharaman.

Masuk Jannah dengan Hisab yang Ringan
Muqtashid berarti sedang atau tengah-tengah. Tidak buruk dan tidak istimewa. Perbedaan mereka dengan yang pertama adalah pada amalan sunnahnya dan sikap mereka terhadap yang makruh dan yang mubah. Untuk semua kewajiban dan larangan, para muqtashid memenuhi aturan Alloh I sebagaimana mestinya, begitu pula dengan aqidahnya.
Tentang hisab yang akan mereka jalani Rasulullah r  bersabda, ”Setiap orang yang menjalani hisab pada hari kiamat pasti celaka.” Wahai Rasulullah, bukankah Alloh I  telah berfirman, ”Barang siapa menerima kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan?” Beliau menjawab, ”Hanyasanya itu adalah al ’aradh (sekedar diperlihatkan), dan tidak ada seorang pun kecuali ia akan diadzab.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksud dari hadits tersebut adalah jika seorang hamba dihisab secara detail dan rinci, maka tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari adzab. Namun karena kemurahan yang Alloh I berikan, sehingga hanya sekedar diperlihatkan kitabnya saja.
Masuk Jannah dengan Hisab yang Berat
Dzalim linafsih (orang yang mendzalimi diri) adalah mereka yang tahu adanya kewajiban dan larangan, namun sengaja melanggarnya,   lalu  ia  meninggalkan  dunia sebelum bertaubat dari dosa itu  (selain syirik dan kufur akbar). Lalu di akhirat, status mereka adalah tahta masyi’aitillah (tergan-tung kehendak Alloh I). Jika Alloh I menghen-daki, bisa jadi mereka  langsung mendapat ampunan, namun jika Dia berkehendak lain, maka mereka mesti disucikan dahulu di atas api neraka. Dalam hal ini Alloh I berfirman:
Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang-siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’:116)
Kepastian masuknya dzalim linafsih di dalam jannah dapat dilihat secara jelas dan tegas dari kandungan dua hadits berlikut :
”Apabila penduduk jannah telah masuk jannah dan penduduk neraka telah masuk neraka, Alloh akan berfirman, ”Barang siapa di hatinya ada seberat biji sawi keimanan, keluarlah ia (dari neraka)!” Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke nahrul hayah (sungai kehi-dupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang dibawa aliran air.” Lalu beliau melanjutkan, ”Tidaklah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
”Akan kaluar dari neraka satu kaum setelah mereka terjilat oleh apinya, lalu mereka masuk ke dalam jannah. Para penghuni jannah menamai mereka dengan al-jahanamiyyun (mantan penghuni jahan-nam).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebenarnya jika saja seorang hamba melanggar aturan Alloh I lalu ia bertaubat dengan taubatan nashuha, maka paling kurang ia masuk dalam kategori muqtashid, dan akan masuk jannah dengan hisab yang ringan. Bukankah Rasulullah r juga beristighfar sedikitnya 70 kali sehari-semalam,  padahal    beliau    telah   dijamin masuk jannah lantaran kemaksumannya. Lantas bagaimana dengan diri kita yang sarat dosa?
Tentu saja faktor anugrah Alloh I serta keadilan-Nya berhubungan erat dengan ke-tiga cara masuk jannah ini, jelas-jelas Rasu-lullah r bersabda: ”Sekali-kali amal seseorang dari kalian tidak akan menyelamatkannya.” Para sahabat bertanya, ”Tidak juga dirimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Tidak juga aku, namun karena aku dinaungi oleh Alloh dengan rahmat-Nya.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Akhir kata,  termasuk kategori yang ma-napun diri kita, selayaknya untuk menyimak atsar yang dicantumkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau terhadap firman Alloh I surat  Fathir ayat ke-32 tadi, supaya diri ini tidak terjangkit sifat ujub (bangga diri) atau ghurur (tertipu).
`Uqbah bin Shahban Al-Hanna`iy pernah bertanya kepada ummul mukminin `Aisyah tentang sipakah yang dimaksud oleh Alloh I dalam surat Fathir ayat-32, ibunda `Aisyah menjawab, ”Wahai anakku, meraka semua akan masuk jannah. Sabiq bilkhairat adalah mereka yang telah mendahului kita di masa Rasulullah dan beliau menjanjikan jannah bagi mereka. Muqtashid adalah para Sha-habat Nabi yang senantiasa meneladani beliu. Dzolimu linafsih adalah orang-orang seperti diriku dan dirimu.” Walahu a`lam.
Makalah ini dinukil dari rubrik Aqidah majalah Ar-Risalah, No. 26 Th. III Jumadits Tsani-Rajab 1424H / Agustus 2003 M dengan beberapa perubahan dan tambahan dari kitab:
-   Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.
-   Tafsir Al-Qur’anul ’Adzim, Ibnu Katsir.
-   Kitabul Iman, Ibnu Taimiyah.
-   Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Miata wa ’Isyruna Miftah min Mafatihil Jannah minal Kitabi was Sunnah, Thaha Abdullah Afifi.

Subhanallah, Anak Kepala Suku Asmat Hafiz Quran

Written By Amal Madani Indonesia on Thursday, July 5, 2012 | 9:09 PM

Subhanallah, Anak Kepala Suku Asmat Hafiz Quran


  • Bapak dan ibunya kemarin masuk Islam dan berjanji untuk menyiarkan Islam
Imam Masjid Istiqlal, Ustadz Ali Hanafiah (kanan), membimbing Kepala Suku Asmat Papua, Umar Abdul Kayimter (kiri), saat membaca dua kalimat Syahadat di Masjid Darussalam, Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Ahad (19/2). Republika/Agung Supriyanto
 ***
BEKASI — Pengiat dakwah Papua, Fadlan Garamatan begitu bahagia saat syiar Islam pada suku Asmat melahirkan satu Muslim yang nantinya akan memainkan peranan penting bagi kemajuan Islam di Papua.
“Alhamdulillah, hari ini kita meyaksikan sebuah kemajuan dimana dalam, bayangan saya akan datang Muslim baru berjumlah ribuan yang berasal dari suku Asmat,” kata dia selepas membimbing keluarga Umar Abdullah Kayimter mengucapkan Syahadat di Masjid Darussalam, Jati Bening, Bekasi, Ahad (19/2).
Ustad Fadlan mengatakan sudah lama Umar berkeinginan memeluk Islam.  Apalagi setelah anaknya, Muhammad Hatta memutuskan memeluk Islam beberapa tahun lalu. Kini, anaknya telah menjadi Hafiz Alquran.
Dari situlah, Umar melihat adanya perubahan ketika seseorang masuk Islam. “Dalam kepercayaan sebelumnya, ia tidak ada perubahan. Namun saat Islam masuk, ada semacam perubahan seperti banyak generasi muda suku Asmat belajar di luar daerahnya,” kata Fadhlan.
Karena itu, Fadhlan optimis syiar Islam di Indonesia Timur, tepatnya Papua akan terus berkembang. Ia percaya Papua akan menjadi pusat perkembangan Islam di Indonesia Timur.
“Kami memang tidak mudah dalam menjalankan aktivitas dakwah. Ada penolakan itu wajar. Sebagai pendakwah halangan dan rintangan apapun harus dihadapi dengan catatan dakwah harus digeliatkan dengan baik-baik. Insya Allah hasilnya akan baik pula,” kata dia.
Ke depan, kata Fadhlan, warga Suku Asmat sendiri yang akan memainkan peranan penting dalam syiar Islam. Sekarang, sebanyak 20 pemuda dengan belajar Alquran di Demak dan Yogyakarta. Setelah selesai, mereka akan berbagi tugas untuk melanjutkan dakwah yang sudah dijalankan selama ini.
“Tantangan selalu ada. Tidak perlu takut, Allah SWT bersama kita yang memiliki niatan mulia. Tugas kita masih panjang,” pungkasnya.
Redaktur: Heri Ruslan Minggu, 19 Pebruari 2012 12:24 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,
***
Alhamdulillah, Kepala Suku Asmat dan Keluarganya Memeluk Islam
Minggu, 19 Pebruari 2012 11:59 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,  BEKASI — Kepala suku Asmat beserta keluarganya dari Kampung Per, Merauke, Papua, mengikrarkan diri memeluk Islam.  Mereka merupakan seakan menjadi tanda geliat syiar Islam di Indonesia Timur.
Dengan didamping ustaz Fadhlan Garamatan dan Imam Masjid Istiqlal, Ali Hanayiah, satu keluarga yang terdiri dari Sinansius Kayimpter (ayah), Agnes Atem (ibu) dan Ruben Siwir (anak) mengucapkan dua kalimat syahadat dalam suasana khidmad yang berlangsung di Masjid Darussalam, Jati Bening, Bekasi, Ahad (19/2).
Secara terbata-bata, Sinansius mengucapkan dua kalimat syahadat. Disusul istrina Agnes dan anaknya, Ruben. Untuk Ruben, ia  mengalami kesulitan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lancar. Entah karena terharu, Ruben akhirnya tak kuasa menahan tangis. Ia pun tidak melanjutkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Ya, Insya Allah. Nanti kalau sudah dewasa, ia bisa kita bimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Untuk itu, diharapkan Orang tua dan kakaknya membimbingnya untuk lebih dulu mengenalkannya pada Islam,” papar Ali.
Ritual pun berakhir.  Kumandang takbir pun menggema di dalam Masjid. ”Alhamdulillah, Allahuakbar,” kata jamaah yang kebutulan hadir dalam acara tersebut.
Tak lama, acara selanjutnya diumumkan bahwa ketiganya memutuskan mengganti nama. Nama itu dipilih oleh ketiganya. Sinansius  mengubah namanya menjadi Umar Abdullah Kayimter, istrinya mengubah nama menjadi Aisyah Khaerunissa Atem, dan putranya menjadi Salim Abdullah Siwir.
“Kami telah mengusulkan sejumlah nama kepada keluarga ini. Tapi tetap mereka yang memilih nama Muslimnya sendiri,” ungkap Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Darussalam, Baharuddin Wahab.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Agung Sasongko
***
Kepala Suku Asmat Siap Sebarkan Islam di Papua
Minggu, 19 Pebruari 2012 13:03 WIB
BEKASI –  Kepala Suku Asmat, Sinansius Kayimter alias Umar Abdullah Kayimter mengaku siap untuk menyebarkan risalah Islam kepada saudara-saudaranya dari suku Asmat.
Untuk itu, ia akan secepatnya mengenal Islam lebih dekat. “Saya akan coba perkenalkan Islam kepada saudara-saudara saya disana,” katanya.
Umar percaya, dengan masyarakat Asmat mengenal Islam, maka perubahan akan datang. Perubahan itu tentu akan membawa suku Asmat kepada kehidupan yang lebih baik dan tetap menjadikan suku Asmat sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Insya Allah, saya akan tetap menjadikan suku Asmat menjadi bagian dari NKRI, dan menjadi Islam bagian dari suku Asmat,” ucapnya mantap.
Melalui komentar-komentarnya, pembaca Republika.co.id meminta agara ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, FPI, Anshor, dan ormas Islam lainnya untuk membantu penyebaran Islam di Papua. ”Lupakan politik praktis,” ujar seorang pembaca.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Agung Sasongko – REPUBLIKA.CO.ID,
(nahimunkar.com)

Subhanallah.. Kepala Suku Asmat dan Keluarga Masuk Islam Dan Akan diikuti Kaumnya

Subhanallah.. Kepala Suku Asmat dan Keluarga Masuk Islam Dan Akan diikuti Kaumnya

Semua mata terpaku pada sosok lelaki berkulit hitam legam dan berperawakan tinggi besar. Dia adalah Kepala Suku Asmat Besar yang Ahad (19/2) kemarin mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Darussalam, Komplek Perumahan Tamansari Persada Raya, Jatibening, Jakarta Timur, pukul 09 pagi. Suasana haru biru jamaah yang hadir menyaksikan moment bersejarah itu, terlihat saat Kepala Suku beserta istri dan anaknya itu mengucapkan syahadat. Takbir pun bergema.
Dipimpin oleh Ketua DKM Darussalam H. Baharuddin Wahab pensyahadatan itu sekaligus diikuti dengan pengukuhan kembali pernikahan mereka secara syariat Islam. Dalam syahadat tersebut, disaksikan oleh Presiden AFKN (Al Faith Kaffah Nusantara) Ustadz Muhamad Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan dan mantan Bupati Fakfak (Papua Barat) Wahidin Puarada.  AFKN adalah sebuah lembaga dakwah Islam yang aktif berkiprah di Nuu Waar (Papua) pimpinan Ustadz Fadlan Garamatan.

Umar Abdullah Kayimtel adalah Kepala Suku Asmat besar dari kampong Per, Merauke yang membawahi beberapa kampung besar disekitar pantai. Kepala suku Asmat yang bernama asli Senansius Kayimtel (Kepala Keluarga) itu kemudian berganti nama menjadi Umar Abdullah Kayimtel. Sedangkan istrinya Agnes Atem menjadi Aisyah Khoirunnisa dan anaknya yang masih berusia 12 tahun, Ruben Siwir diganti namanya menjadi Salim Abdullah.
Usai syhadat, DKM Masjid Darussalam memberikan hadiah 3 paket Umroh kepada Kepala Suku Asmat dan keluarganya, dan banyak lagi  hadiah serta tanda simpati dari para jamaah Masjid Darussalam. Umar Abdullah yang tidak lancer berbahasa Indonesia, menyatakan motivasinya masuk Islam adalah  kurang tenang, kurang tenteram, kurang nyaman dengan agamanya yang lama (Kristen).
Didamping anaknya M. Hatta yang sudah lebih dulu masuk Islam, Umar Abdullah menyatakan akan mengajak keluarganya memeluk Islam, dan bahkan akan mendakwahkan Islam kepada anggota sukunya. Umar Abdullah mempunyai anak 8 orang, dua orang sudah Islam, sisa yang lainnya insya Allah segera menyusul.
Dikatakan Ustadz Fadzlan, Umar Abdullah sudah datang di Jakarta sejak 15 Februari. Menjelang sore, di Terminal Kedatangan 1C Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng nampak ramai. Di antara keramaian itu, kawan-kawan santri AFKN menyambut kedatangan tamu istimewa. Terlebih penyambutan sekitar pukul 16.00 WIB itu dilengkapi spanduk dan tim hadrat (tradisi di kalangan umat Islam Nuu Waar). Spanduk bertuliskan “Selamat Datang Kepala Suku Besar Asmat Umar Abdullah Kayimtel” itu dibentangkan di pagar yang berhadapan dengan pintu keluar terminal sore itu.
Ketika ditanyakan kenapa pensyahadatan mesti dilakukan di Jakarta, ustadz Fadzlan menjelaskan bahwa, kepala suku Asmat sekaligus mau mengunjungi orang-orang Asmat yang ada di pulau Jawa, antara lain di Yogyakarta dan Demak. Ustad Fadzlan yang dijuluki Ustadz Sabubn Mandi itu (karena dakwahnya yang menggunakan sarana sabu mandi) menghimbau seluruh umat Islam jangan bosan memberikan bantuan kepada saudaranya seakidah yang berada di Nuu War atau Papua, baik berupa sabun, shampoo, pakaian layak pakai dan sebagainya
Menurut Ustadz Fadlan, sampai hari ini sekitar 221 suku di Papua yang sudah memeluk Islam. Jumlah warga tiap suku bervariasi, mulai dari ratusan sampai ribuan. Jika dipukul rata tiap suku seribu orang, maka kerja keras Ustad Fadlan sudah mengislamkan 220 ribu orang Papua pedalaman. Subhanallah…

Menikah Ulang
Usai pengumuman pergantian nama, acara dilanjutkan dengan menikahkan kembali Umar dengan istrinya. Hal itu dilakukan guna memantapkan niatan kedua pasangan ini untuk menjadi pasangan Muslim.
Imam Masjid Istiqlal, Ali Hanafiyah lalu bertindak sebagai wali hakim dari Aisyah menerima ijab Kabul dari Umar. Suasana pun begitu khidmad. Senyum bangga tak berhenti terlihat dari Umar. Apalagi ketika wali nikah dan jamaah mengatakan sah atas pernikahan itu.
“Insya Allah, dengan dinikahkan kembali, harapannya keluarga ini akan menjadi keluarga Muslim yang selalu mendapat ridha dari Allah SWT,” kata Ali.
Anaknya Sudah Hafidz Al Quran


Setelah anak Umar, Muhammad Hatta memutuskan memeluk Islam beberapa tahun lalu. Kini, anaknya telah menjadi Hafiz Alquran.
Dari situlah, Umar melihat adanya perubahan ketika seseorang masuk Islam. “Dalam kepercayaan sebelumnya, ia tidak ada perubahan. Namun saat Islam masuk, ada semacam perubahan seperti banyak generasi muda suku Asmat belajar di luar daerahnya,” kata Fadhlan.
Karena itu, Fadhlan optimis syiar Islam di IndonesiaTimur, tepatnya Papua akan terus berkembang. Ia percaya Papua akan menjadi pusat perkembangan Islam di Indonesia Timur.
“Kami memang tidak mudah dalam menjalankan aktivitas dakwah. Ada penolakan itu wajar. Sebagai pendakwah halangan dan rintangan apapun harus dihadapi dengan catatan dakwah harus digeliatkan dengan baik-baik. Insya Allah hasilnya akan baik pula,” kata dia.
Ke depan, kata Fadhlan, warga Suku Asmat sendiri yang akan memainkan peranan penting dalam syiar Islam. Sekarang, sebanyak 20 pemuda dengan belajar Alquran di Demak dan Yogyakarta. Setelah selesai, mereka akan berbagi tugas untuk melanjutkan dakwah yang sudah dijalankan selama ini.
“Tantangan selalu ada. Tidak perlu takut, Allah SWT bersama kita yang memiliki niatan mulia. Tugas kita masih panjang,” pungkasnya.
Butuh Bimbingan dan Perhatian Umat
Ali Hanafiyah mengatakan dari tahun 1980an, telah ada dari kalangan suku Asmat yang memeluk Islam. Namun, tidak adanya pembimbing menjadikan Muslim Asmat seolah diabaikan.
“Mereka yang masuk Islam lalu mendapat pemberitaan dari media. Tapi setelah itu, tidak ada bimbingan berkesinambungan sehingga mereka tidak menjalankan Islam secara kaffah,” kata Ali dalam pesannya kepada keluarga Umar yang baru saja mengucapkan syahadat di Masjid Darussalam.
Ali mengatakan adalah tugas umat Islam untuk bersama-sama memberikan perhatian dan bimbingan kepada Muslim Asmat.  Umat Islam perlu mencontoh Rasulullah SAW saat mendidik para sahabat seperti Abu Bakar, Umat bin Khattab, dan Ustman bin Affan.
“Nabi SAW mengislamkan kota Mekkah dengan mendekati para pemimpin kabilah kota itu. Lalu beliau bentuk Makkah sebagai pusat penyebaran Islam,” papar Ali.
Untuk itu, menurut Ali, kelak suku Asmat dapat menjadi pusat penyebaran Islam di Papua. Ia percaya masuknya Islam ke Papua akan memberikan perubahan pada wilayah itu. “Kita akan buat Papua menjadi lebih bermartabat,” katanya.
Sumber : Berita Muslim dan Mualaf

Bangkitlah Wahai Pemuda!



Wahai pemuda, jika semangat dakwahmu melemah, lihatlah mereka para assabiqunal awwalun yang ditempa Rasulullah SAW di rumah Arqam bin abi Arqam. Tak kurang 25 dari 40 orang assabiqunal awwalun itu berusia di bawah 30 tahun. Mereka adalah pemuda! Sepertimu! Dan sejarah kemenangan selalu diukir oleh para pemuda.
“Oleh karena itu,” kata Hasan Al Banna dalam Majmu’atur Rasail, “sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya”.
Wahai pemuda, semestinya kita malu jika usia kita masih muda, status kita pemuda, tetapi kita tidak memiliki semangat juang dalam menegakkan kebenaran dan mendakwahkan Islam. Apa artinya menjadi pemuda jika energi dan vitalitas untuk bergerak tidak dimiliki? Apa artinya menjadi pemuda jika sikap diam menghalangi diri berkebajikan?
“Pemuda yang tidak memiliki semangat dakwah,” kata Imam Syafi’i dalam antologi syairnya, “takbirkanlah ia empat kali, karena sesungguhnya ia telah mati.”
Lihatlah mereka, para assabiqunal awwalun yang ditarbiyah Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Tidakkah kita iri dengan mereka yang usianya masih belia tetapi menjadi tonggak dakwah Islam dengan segala konsekuensi dan resikonya. Lepas dari mereka disebut sebagai kutlah oleh harakah tertentu dan disebut sebagai kataib oleh harakah lainnya, tak kurang 25 dari 40 sahabat itu berusia kurang dari 30 tahun. Mari simak nama-nama assabiqunal awwalun ini, lihatlah usianya dan seraplah semangat juang mereka:
1. Ali bin Abu Thalib berusia 8 tahun
2. Zubair bin Awwam berusia 8 tahun
3. Thalhah bin Ubaidillah berusia 11 tahun
4. Arqam bin Abi Arqam berusia 12 tahun
5. Abdullah bin Mas’ud berusia 14 tahun
6. Sa’ad bin Abi Waqash berusia 17 tahun
7. Mas’ud bin Rabi’ah berusia 17 tahun
8. Abdullah bin Mazhun berusia 17 tahun
9. Ja’far bin Abu Thalib berusia 18 tahun
10. Qudamah bin Mazhun berusia berusia 19 tahun
11. Sa’id bin Zaid berusia < 20 tahun
12. Shuhaib ar-Rumi berusia < 20 tahun
13. Zaid bin Haristah berusia sekitar 20 tahun
14. Utsman bin Affan berusia sekitar 20 tahun
15. Thulaib bin Umair berusia sekitar 20 tahun
16. Khabab bin Al-Art berusia sekitar 20 tahun
17. Saib bin Mazhun berusia sekitar 20 tahun
18. Amir bin Fuhairah berusia berusia 23 tahun
19. Mush’ab bin Umair berusia 24 tahun
20. Miqdad bin Al-Aswad berusia berusia 24 tahun
21. Abdullah bin Jahsy berusia 25 tahun
22. Umar bin Khatab berusia 26 tahun
23. Abu Ubaidah bin Jarah berusia 27 tahun
24. Utbah bin Ghazwan berusia 27 tahun
25. Abu Hudzaifah bin Utbah berusia sekitar 30 tahun
26. Bilal bin Rabah berusia sekitar 30 tahun
27. ‘Ayash bin Rabi’ah berusia sekitar 30 tahun
28. ‘Amir bin Rabi’ah berusia sekitar 30 tahun
29. Na’im bin Abdullah berusia sekitar 30 tahun
30. Utsman bin Mazhun berusia sekitar 30 tahun
31. Abu Salmah Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi berusia sekitar 30 tahun
32. Abdurrahman bin Auf berusia sekitar 30 tahun
33. Ammar bin Yasar berusia sekitar 30-40 tahun
34. Abu Bakar Ash Shidiq berusia 37 tahun
35. Hamzah bin Abdul Muthalib berusia 42 tahun
36. Ubaidah bin Al-Harits berusia 50 tahun
Selain 36 nama di atas, ada beberapa shahabiyah assabiqunal awwalun seperti Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Khatab, Ummu Aiman, Ruqayyah, dan Sumayyah. Nama yang disebut terakhir ini menjadi syahidah pertama fi sabilillah bersama suaminya yang juga syahid: Yasir. Sehingga keduanya tidak dimasukkan ke dalam nama-nama sahabat yang dibina Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam.
Menjadi pemuda, artinya adalah menjadi manusia yang bersemangat. Menjadi pemuda, artinya adalah menjadi orang-orang yang mampu bergerak cepat. Menjadi pemuda, artinya menjadi pribadi tangguh yang siap menyelamatkan umat. Para pemuda pendahulu kita telah memberikan contoh dan menjadi teladan, jika engkau tak juga menemukan siapa mereka, lihatlah mereka assabiqunal awwalun; generasi pertama dari kalangan sahabat.

Belajar Al-Qur'an sekarang bisa lebih cepat

Diperkirakan jumlah pertumbuhan orang yang masuk Islam (2,9%) lebih besar dari jumlah pertumbuhan penduduk dunia (2,6%). Jika total jumlah penduduk dunia 6,95 milyar berarti paling tidak 20.850.000 (0,3% dari penduduk dunia) muallaf yang tersebar di seluruh dunia membutuhkan cara cepat baca Al-Qur’an. Itu kalau dihitung dari selisih prosentase orang masuk Islam dengan tingkat pertumbuhan penduduk dunia. 

Kalau dihitung berdasarkan prosentasenya sendiri menjadi 201.550.000 muallaf. Jumlah penduduk muslim dunia diperkirakan mencapai 23% atau sekitar 1,6 milyar. Dari jumlah tersebut, hanya 1 dari 6 orang yang dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Sebuah angka yang membutuhkan perhatian serius untuk memberi kesempatan kepada mereka agar dapat membaca Al-Qur’an dengan cepat dan benar.

ALBARQY yang memiliki keunggulan metodik tentu menjadi ”sangat dibutuhkan” untuk menjawab tantangan di atas. Departemen Agama RI tahun 2000 telah membuktikannya melalui penelitian yang diadakan di 5 kota. Dari 5 metode yang diberi kesempatan untuk menunjukkan keunggulannya dalam waktu 2 bulan di 5 kota, hanya Al-Barqy yang dapat menyelesaikan materinya dalam waktu 1 bulan dengan hasil ANAK DIDIK BISA BACA AL-QUR’AN DARI NOL. Metode yang lain tidak dapat menyelesaikan meskipun sudah diberi tambahan jam intensif di luar jam yang ditentukan dalam penelitian tersebut.

AL-BARQY, paling lama membutuhkan waktu 8 jam untuk anak SD dan kurang lebih 4 jam untuk anak SMA hingga dewasa untuk bisa membaca Al-Qur’an dari NOL. Tentu akan memberi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang belum bisa membaca Al-Qur’an apabila ternyata mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat membaca Al-Qur’an. Jangan sampai mereka lebih dulu BOSAN karena salah memilih metode yang pas sehingga mereka bisa lebih banyak mengeksplorasi ilmu Al-Qur’an yang lain.

Setelah bisa membaca, tentu mereka ingin tahu maknanya. Memahami maknanya harus tahu bahasanya. Dan Lembaga Al-Barqy sudah mengantisipasi post AL-BARQY tersebut dengan beberapa materi lain yang sudah teruji. Yaitu: Ta’bir Al-Lughawy (pengajaran bahasa Arab cepat), An-Nahwu fie tsaubihil jadid (Tata Bahasa Arab Ringkas), Tajdidut Tajwid (Pembaharuan Tajwid), Fahmil Qur’an ’Ala Thoriqotil Manhajiyyah (Memahami Al-Qur’an dengan metode Manhaji).

Sekilas tentang ALBARQY

Written By Amal Madani Indonesia on Wednesday, July 4, 2012 | 11:55 PM

Sekilas tentang ALBARQY

Nama ALBARQY ( البرقىّ ) berasal dari kataالبرقُ  yang berarti kilat. Tambahan huruf y (ى) bertasydid adalah ya’ nisbah yang merobah kata benda ( اسم  ) agar bisa berfungsi sebagai kata sifat (الوصف  ). Yang dikehendaki adalah pernyataan majazi, yaitu diharapkan buku ini bersifat seperti kilat atau cepat laksana kilat. Ada sebuah pemeo (الاسمُ الرجاءُ والدعاءُ  ) nama adalah harapan dan do’a.

Pengarang Al Barqy adalah KH Muhadjir Sulthon, mantan ketua jurusan Satra Arab Fak Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya

KH Muhadjir Sulthon, dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, ini memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan metode membaca Al-Qur’an yang efektif dan efisien. Setelah mempelajari berbagai metode membaca Al-Qur’an yang berkembang sejak beberapa abad lalu hingga metode paling mutakhir, Muhadjir akhirnya menemukan metode yang paling efektif.

Metode ALBARQY terasa lebih dekat dengan bahasa anak-anak. “Saya berusaha menyesuaikan ucapan yang biasa dilafalkan anak-anak di sini,” ujar anak pertama dari tujuh bersaudara ini menjelaskan. Yaitu, a-da-ra-ja, ma-ha-ka-ya, ka-ta-wa-na, sa-ma-la-ba. Jadi, sebisa mungkin diusahakan anak-anak tidak asing dengan bacaan yang tengah mereka pelajari.

“Metode ALBARQY merupakan perpaduan antara metode ho-no-co-ro-ko (Jawa) dan metode Arab,” jelas beliau. Tetapi, agar lebih efektif, metode ho-no-co-ro-ko yang terdiri dari 5 suku kata itu dipadatkan menjadi 4 suku kata saja. Itu, tambah beliau, “Saya harapkan bisa mempermudah cara belajar yang menggunakan metode ALBARQY."

Dari beberapa prestasi yang diraihnya, anak pasangan H Sulthon dan Hj Musyarafah ini telah menerima 3 penghargaan. Pertama, dari Menteri Agama, dalam hal tilawatil Qur’an (1992). Kedua, dari Presiden Soeharto, berupa Satya Lencana Karya Satya (1995). Ketiga, dari Mitra Karya Bhakti Pertiwi, berupa The Best Award (1996). Dan pada 1994/1995, metode ALBARQY dinyatakan sebagai metode mengajar membaca Al-Qur’an paling efektif untuk SD.

KEIKHLASAN

Written By Amal Madani Indonesia on Saturday, June 23, 2012 | 3:32 PM


Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Ustadz,saya ada beberapa pertanyaan:
  1. Jika seorang ikhwan (lelaki muslim, red.) khusus bangun untuk shalat lail dengan tujuan agar dimudahkan dalam menemukan jodoh (menikah) dan mendapatkan calon istri yang cantik lagi baik agamanya, apakah yang demikian ini termasuk tidak ikhlas?
  2. Sama dengan kasus yang pertama, ada karyawan yang diajukan untuk naik jabatan, kemudian karyawan tersebut banyak mengerjakan shalat lail dan dhuha agar naik jabatan. Apakah yang demikian ini termasuk tidak ikhlas?
Jon (jhony**@***.com)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam.
Ya, termasuk tidak ikhlas. Baca Q.s. Hud, ayat 15.
Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.

TEXT WIDGET

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yayasan Sosial dan Kemanusiaan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger